DKI news

DKI news

LIberty S: ‘REVITALISASI PANCASILA DI TANAH BATAK’ LIberty S: ‘REVITALISASI PANCASILA DI TANAH BATAK’
 1000 Persen Indonesia, 100 Persen Batak Jakarta, DKI`“.NEWS OLEH: LIBER SIMBOLON, (Tokoh Muda Batak) Mirip 3 Lembaga Negara : 1.Legislatif 2.Eksekutif 3.Yudikatif) Atau Dalihan... LIberty S: ‘REVITALISASI PANCASILA DI TANAH BATAK’
 1000 Persen Indonesia, 100 Persen Batak
Jakarta, DKI`“.NEWS

OLEH: LIBER SIMBOLON, (Tokoh Muda Batak)

Mirip 3 Lembaga Negara :
1.Legislatif
2.Eksekutif
3.Yudikatif)
Atau Dalihan Na Tolu (Tiga Tungku), Bagian dari Penerapan Pancasila dalam Kehidupan Orang Batak.

Bangsa Indonesia, khususnya di Tanah Batak, Pancasila merupakan harta terbesar anugerah TYME yang tidak dapat ditukarkan dengan apapun.

Pancasila untuk merangkul keberagaman bangsa. Dimana memberikan nilai-nilai kesejukan seperti toleransi dan menghargai keberagaman dalam mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia khususnya Tanah Batak.

Pancasila terancam dari tiga sudut:
(1) Dari pragmatisme suatu generasi yang hanya mau satu: maju dan masuk ke dalam the golden crowd, yaitu kalangan mereka yang dapat memanfaatkan mall-mall dan hidup dalam gaya globalisme international.
(2) Dari puritanisme eksklusif keagamaan.
(3) Dari korupsi kelas politik yang membuat omongan tentang Pancasila. mereka memang banyak omong Pancasila – tidak credible.
Revitalisasi dan Reformasi

Agar Pancasila dapat dihayati kembali, amat pentinglah untuk menghindari kesan bahwa omongan tentang Pancasila adalah kedok penolakan terhadap cita-cita reformasi. Cita-cita reformasi masih jauh dari tercapai dan ada macam-macam hal yang perlu diperbaiki, akan tetapi akan amat fatal bagi Pancasila kalau dikampanyekan dengan maksud mengembalikan Indonesia ke masa oligarki, kekuasaan sebuah elit (bukankah masalah Indonesia bukan rakyat melainkan korupsi para elit?), jadi ke pembongkaran pembaruan UUD 1945, khususnya pemastian konstitusional terhadap kekuasaan di tangan rakyat serta hak-hak asasi manusia, lalu

Reformasi bukannya kebablasan dan bukannya dibajak oleh liberalisme, melainkan hanya berhasil setengah-setengah karena program “pemberantasan KKN” tidak berhasil dilaksanakan. Masalahnya adalah bahwa ada kesan bahwa apa saja dapat dibeli dan nafsu kelas politik untuk memperkaya diri tak terkendali.

Maka Pancasila harus betul-betul dilaksanakan. Baik masing-masing lima sila, maupun sebagai tekad bersama untuk saling menerima. Apa yang terjadi dengan komunitas agamis yang tidak dilindungi oleh UU Penodaan Agama mencoret muka Indonesia sebagai negara Pancasila. Begitu masih banyak contoh yang dapat diberikan, dan

Kita boleh menerima bahwa semakin Pancasila direalisasikan, semakin kita merealisasikan bahwa kita suatu negara hukum yang tidak mengizinkan ancaman, kekerasan, apalagi pembunuhan atas nama ideologi sekuler maupun religius berlangsung, kita semakin juga akan berhasil membangun Indonesia yang adil makmur sejahtera manusiawi dan maju.

“Saat ini Pancasila menjadi Panglima Manajemen dalam keberagaman atau bermajemuk dalam menjawab tantangan bangsa kedepan, karena nilai-nilai yang berakar dari budaya Nusantara sehingga terbukti Pancasila menjadi wadah pemersatu bangsa Indonesia yang beraneka ragam dan multikultural.

Ihwal ini, yang perlu kita lakukan adalah menjiwai dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” Tutur Liber Simbolon.

Tambahnya, dengan implementasi nilai-nilai Pancasila agar tetap kuat, sejahtera, dan makmur. Untuk itu, perlu kedepan berdasarkan kompetensi dan kualitas orang, sehingga kita bisa menempatkan orang sesuai dengan keahliannya.

“Misalnya, dalam promosi atau pengisian jabatan, jangan lagi lihat unsur SARA, tetapi harus berdasarkan kompetensi dan kualitas orang, sehingga kita bisa menempatkan orang sesuai dengan keahliannya,” katanya.

Untuk saat ini, penjiwaan dan kultur yang kuat dari suku Batak yang sangat beragam tanpa memandang SARA bukan saatnya lagi membicarakan perbedaan dan menonjolkannya karena kita sudah bermajemuk, artinya bertetangga dengan suku-suku lainnya bahkan secara global.

Bung Karno saat di Ende, Pulau Flores, Provinsi NTT dibawah pohon Sukun (Satu Family Dengan Pohon Beringin dalam bahasa Batak Pohon Hariara/Jabi-jabi) yang mendapatkan ilham mepolarisasi butir-butir lima sila Pancasila.

Kota Parapat yang berada Tepi Danau Toba dan Berastagi saat tahun 1948 pernah di asingkan sehingga menjadi sejarah bagi bangsa Indonesia, Bung Karno seperti yang ditulis dibuku Otobiografi “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. oleh Cindy Adams.

Mengapa Revitalisasi??

Lokakarya dengan topic Revitalisasi Pancasila. Kita bertanya: mengapa dibutuhkan revitalisasi? Sebabnya, saat ini Pancasila tidak dirasa sebagai suatu yang vital sebagai dasar negara kita, dan antusiasme publik terhadap Pancasila sudah jauh berkurang dibandingkan antusiasme peserta sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) di Jakarta pada 1 Juni 1945 di Jakarta

ketika Bung Karno dalam sebuah pidatonya yang terbaik mengusulkan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup Indonesia Merdeka. Usul itu diterima secara aklamasi oleh sidang setelah diselingi banyak aplaus penghormatan dan persetujuan. Sebabnya, tentu saja karena gagasan itu telah disampaikan oleh Bung Karno sebagai penggagasnya dengan cara yang memukau dan meyakinkan, sedangkan peserta sidang berpendapat bahwa inilah suatu dasar yang kuat bagi masyarakat Indonesia, yang akan segera menjadi negara merdeka.

“Generasi muda supaya jangan hilang jati diri atau identitas sebagai suku bangsa di Indonesia yang punya historis kuat pada nilai-nilai Pancasila, sehingga kedepan untuk mampu mengatasi ancaman yang nyata dan tak terkamuflase yang akan jadi penghambat cita-cita dan tujuan nasional bangsa Indonesia, khususnya Tanah Batak (Bona Pasogit). Mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian hidup.

Motto “100 persen Indonesia, 100 persen Batak,” ujar Liber yang juga dosen di Universitas Bung Karno Jakarta.

Tambahnya, tentu hal ini harus menyesuaikan dengan pola-pola yang digemari atau disukai oleh mereka-mereka yang masuk dalam generasi Era Milenial. Penggunaan kecanggihan teknologi informasi menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan. Selain itu, cara penyajian dan penanganannya, membutuhkan kreativitas yang inovatif agar butir nilai-nilai yang terkandung dalam lima sila Pancasila saling kombinasi.

Tantangan dan Kebutuhan di Tanah Batak

Munculnya paham radikalisme belakangan ini, yang ingin menggugat bahkan adanya upaya-upaya yang ingin merubah Pancasila sebagai Ideologi Negara, menjadi masalah Nasional yang berdimensi Global. Pemahaman tentang nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila, menjadi taruhan yang tidak tanggung-tanggung. Bahkan sudah merajalela ke berbagai penjuru Nusantara, hingga ke berbagai elemen masyarakat bawah, menengah maupun kalangan elitis.

Sedangkan Pancasila merupakan nilai-nilai luhur yang harus dihayati dan dipedomani seluruh warga negara Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Penghayatan yang mendalam atas nilai-nilai dasar Pancasila akan memperkuat identitas, jati diri, dan karakter masyarakat Indonesia yang berkepribadian Pancasila.

Keberadaan formal Pancasila yang sangat kuat, sering tampak dan tidak selalu sejajar dengan pengamalan Pancasila dalam kehidupan sosial sehari-hari. Pancasila belum menjadi etos bangsa ini. Bahkan hasil penelitian Badan Pengkajian MPR menyimpulkan bahwa, lebih dari 50% produk undang-undang yang dikeluarkan pasca-Reformasi tidak merujuk pada nilai-nilai Pancasila. Ini berarti nilai-nilai Pancasila diabaikan dan belum ditaati sebagaimana mestinya.

Bagi Tanah Batak (Bona Pasogit), tantangan yang perlu dijawab adalah, bagaimana merumuskan Pola Penerapan dan Pengamalan Pancasila, melalui instrumen budaya dan lembaga desa, terprogram secara sustainable yang menghasilkan output pemuda-pemudi sejati.

Dalihan Na Tolu (Tiga Tungku)

Dalihan Na Tolu bagian dari penerapan Pancasila. Dalam kekerabatan Batak, tanpa harus dijelaskan, sudah tau posisi masing-masing.

Berbeda dengan sistem kepanitiaan di Amerika Serikat, misalnya, dimana harus dijelaskan dulu tugas masing-masing dalam kepanitiaan tersebut. Bagi orang Batak, baik pejabat tinggi/negara atau tukang tambal ban, masing-masing tunduk pada dalihan na tolu tanpa perintah lagi.

Walaupun pangkatnya Kolonel atau petinggi lainnya, bila posisinya di pihak boru, sudah otomatis sebagai parhobas (melayani). Walaupun pekerjaan orang Batak sebagai tukang tambal ban, bila dia di posisi hula-hula, kolonel atau jenderal pun harus jadi parhobas untuk pesta si tukang tambal ban.

Itulah persaudaraan dan kebersamaan orang Batak. Mereka pada posisi masing-masing dan harus dihargai. Pembagian tugas tidak perlu diatur lagi. Jauh sebelum Indonesia merdeka peradaban gotong-royong sudah ada di Tanah Batak dan suku-suku lainnya di Nusantara. Dan dari peradaban suku-suku bangsa inilah digali Pancasila.

Pada peradaban gotong-royong ada rasa persaudaraan. Kerjasama sukarela dalam kesetaraan dan kesetiaan dalam semangat kebersamaan dan saling bantu-membantu.

Semisal, bila sistem kekerabatan itu digunakan dalam manajemen pemerintahan daerah di Tanah Batak. Bupati sebagai pihak boru (parhobas-pelayan), DPRD sebagai dongan tubu bupati (partner bupati) dan masyarakat sebagai hula-hula (yang harus dilayani). Yang terjadi sekarang, bupati menganggap dirinya penguasa yang tugasnya hanya memerintah dan ingin dilayani (*)

admin

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *